Oleh : KH Abdullah Gymnastiar

republika – Kreativitas. Inilah satu hal yang harus terus kita cari dan kita syukuri dalam hidup ini. Kreativitas adalah kemampuan untuk berkreasi dan menciptakan sesuatu yang baru. Tentu, untuk melakukannya dibutuhkan kecerdasan serta imajinasi.

Ada banyak hal di sekeliling kita yang merupakan hasil dari kreativitas. Kita lihat peniti. Ia adalah hasil daya kreativitas dari sebatang kecil besi yang dibengkok-bengkokan. Barangnya kecil dan sederhana, tetapi efektif dan besar sekali manfaatnya. Maaf, baju atau celana bisa rapat atau tidak melorot karena peniti.

Saya pernah bertemu dengan seseorang yang mengatakan bahwa dirinya tidak percaya dengan mukjizat! Saya agak heran dan bertanya, “Kenapa Pak? Ia lalu menjawab lagi, “Karena mukjizat itu tidak sesuai dengan hukum alam”. Saya bertanya lagi, “Sampai sejauh mana kita mengetahui hukum alam?”. Ia menjawab, “Sesuatu yang kita anggap impossible sekarang hakikatnya hukum alam juga, hanya karena ilmu dan wawasannya saja belum sampai kepada kita. Banyak hal sebelumnya dianggap tidak mungkin, tapi sekarang menjadi sesuatu yang mungkin. Contohnya pembicaraan jarak jauh, bahkan antarbenua. Dahulu tidak terbayang bisa dilakukan, tapi kini? justru dengan teknologi menjadi sangat mudah dilakukan”.

Artinya kita tidak boleh mengunci diri dengan sesuatu yang dianggap baku atau dianggap ada. Apa sebabnya? Di dunia ini sangat banyak peluang untuk menemukan sesuatu yang baru, atau menemukan hal-hal yang lebih efektif dan efisien dari segala sisi. Kita tidak boleh terkunci dengan apa yang telah terjadi, karena langkah kreativitas kita masih teramat dahsyat.

Seseorang akan dipandang kredibel atau terpercaya tatkala ia mampu mengembangkan daya kreativitas dan kemampuan inovasinya dalam hal apapun terutama yang positif. Handphone, contohnya. Kita bisa melihat bagaimana merk-merk terkenal bertarung luar biasa dalam memunculkan inovasi dan kreasi-kreasi baru. Kenapa ini terjadi? Karena mereka harus mempertahankan kredibilitas merk tersebut agar tidak ditinggalkan para konsumennya. Demikian pula dengan komputer, televisi, atau alat transportasi.

Begitupun ketika kita jadi sarjana. Mungkin ketika lulus dan diwisuda kita disegani, tetapi besok lusa jika kita tidak kreatif dalam mengisi hidup dan mengembangkan diri, lambat laun kepercayaan orang kepada kita akan hilang.

Menjadi seorang pejabat pun demikian. Mungkin pada hari pertama ia diangkat, orang-orang memuji dan menghargainya, hari kedua masih dihargai, tetapi hari-hari berikutnya, ketika kita tidak terlihat kreativitasnya untuk menyelesaikan masalah, lambat laun pula akan hilang kredibilitasnya. Pejabat tersebut tidak lagi dipercaya dan otomatis hilang pula wibawanya. Karena itu, dalam sisi apapun, kita membutuhkan kreativitas.

Bagaimana caranya agar kita mampu menumbuhkan daya kreativitas dalam diri? Salah satu caranya, kita harus mempunyai keberanian untuk melakukan sesuatu yang baru. Berbeda tidak selamanya menunjukkan keburukan. Seperti dalam berdakwah misalnya. Kalau kita berdakwah hanya dengan berceramah di masjid saja, insya Allah dampaknya akan sangat kurang. Dakwah akan berkembang dan lebih efektif tatkala kita lebih kreatif dalam mengemasnya. Misalnya dengan memanfaatkan teknologi informasi yang ada, cara penyampaiannya yang lebih menarik dan berbobot, berdakwah dengan bukti, dan lainnya.

Kita pun jangan terbelenggu dengan apa-apa yang telah kita miliki. Saya misalnya kuliah di jurusan Elektro dan bercita-cita menjadi tentara, tapi dengan izin Allah terjadi penyimpangan. Penyimpangan itu tidak selalu menjadi musibah. Kuliah itu hanya beberapa jam saja sehari, sedangkan waktu kita yang 24 jam dapat dimanfaatkan untuk mencari ilmu-ilmu lainnya. Tidakkah kita bisa mengemas selama kuliah, baik itu hubungan dengan sesama, hubungan bisnis, atau organisasi. Semua itu merupakan aset pengembangan diri. Tentu saja tidak harus semua beralih profesi, tetapi jangan sampai kuliah ini membelenggu kita yang seakan-akan hanya ada dalam wadah yang bersangkutan.

Kuliah harus berfungsi sebagai tempat membaca potensi dan mengembangkannya. Tidak salah kita ingin menjadi insinyur yang baik, tetapi kekayaan kita bukan gelar insinyurnya. Kekayaan sebenarnya adalah kekayaan pribadi, termasuk kemampuan mandiri dan kemampuan manajemennya. Jadi kemampuan kita harus berkembang, tidak hanya pada satu bidang saja. Idealnya, kemampuan kita harus melampaui gelar kita.

Kemampuan kita untuk berkreasi, berinovasi dan menerobos hal-hal yang baru sebenarnya sangat luar biasa. Asalkan tidak terbelenggu oleh pendapat, sistem, dan lingkungan yang telah ada sebelumnya. Selain itu, kita harus selalu memulai sesuatu dengan perhitungan yang matang.

Saudaraku, hidup ini sarat dengan peluang. Kita harus mengisinya dengan terus berkarya, berkreasi dan membuat hal-hal yang baru. Inilah episode hidup yang harus kita jalani. Episode hidup mempersembahkan yang terbaik bagi dunia dan bermakna bagi akhirat nanti. Wallahu’alam bish-shawab.